Entri Populer

Kamis, 18 Juli 2013

AKUNTANSI BIAYA
METODE HARGA POKOK

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Informasi mengenai harga pokok produksi sangat penting bagi perusahaan yaitu sebagai pedoman bagi pihak manajemen dalam rangka menentukan harga jual yang akan ditawarkan kepada pembeli, agar mampu bersaing di pasar. Pengumpulan biaya produksi dalam suatu perusahaan dipengaruhi oleh karakteristik kegiatan produksi perusahaan tersebut. Oleh karena itu perusahaan harus mampu menganalisa setiap kebijakan yang akan diambilnya. Dan menyesuaikan metode-metoe yang mereka pilih dengan jurnal-jurnal dan aturan-aturan per metode tersebut.

1.2  Rumusan Masalah

1.2.1 Apa itu Metode Harga Pokok Pesanan?

1.2.2 Bagaimana cara membuat jurnal dalam metode harga pokok pesanan?
1.2.3 Bagaimana cara menbuat Kartu Biaya Pesanan



1.3  Tujuan Penulisan


1.3.1        Mengetahui karakteristik perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan
1.3.2        Melakukan akumulasi biaya berdasarkan pesanan
1.3.3        Membuat ayat jurnal akuntansi biaya berdasarkan metode harga pokok pesanan
1.3.4        Membuat kartu biaya pesanan



BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Karakteristik perusahaan dan metode harga pokok pesanan

Metode harga pokok pesanan adalah perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan mengolah bahan baku menjadi produk jadi berdasarkan pesanan dari luar atau dari dalam perusahaan. Karakteristik usaha perusahaan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Proses pengolahan produk terjadi secara terputus-putus. Jika pesanan yang satu selesai dikerjakan, proses produksi dihentikan dan mulai dengan pesanan berikutnya.
2. Produk dihasilkan sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan oleh pemesan. Dengan demikian antara pemesan yang satu dengan yang lainnya mempunyai variasi yang berbeda-beda.
3. Produksi ditujukan untuk memenuhi pesanan, bukan untuk memenuhi persediaan gudang.
Pada perusahaan yang menggunakan metode harga pokok peasanan memiliki karakteristik
sebagai berikut.
1. Tujuan produksi perusahaan untuk melayani pesanan pembeli yang bentuknya tergantung pada spesifikasi pemesan, sehingga produksinya terputus-putus dan setiap pesanan dapat dipisahkan identitasnya secara jelas.
2. Setiap pesanan memiliki spesifikasi tersendiri dan setiap jenis produk perlu dihitung harga pokok produksinya secara individual.
3. Biaya produksi harus digolongkan berdasarkan hubungannya dengan produk menjadi biaya produksi langsung dan biaya produksi tidak langsung.
4. Biaya produksi langsung diperhitungkan sebgai harga pokok produksi pesanan tertentu berdasarkan biaya yang sesungguhnya terjadi, sedangkan biaya overhead pabrik diperhitungkan ke dalam harga pokok pesanan berdasarkan tariff yang ditentukan di muka
5. Jumlah total harga pokok untuk pesanan tertentu dihitung pada saat pesanan yang
bersangkutan selesai, dengan menjumlahkan semua biaya yang dibebankan kepada
pesanan yang bersangkutan.
6. Harga pokok satuan untuk pesanan tertentu dihitung dengan membagi jumlah total harga pokok pesanan yang bersangkutan dengan jumlah satuan produk pesanan yang
bersangkutan.
7. Pesanan yang sudah selesai dimasukkan ke gudang produk selesai dan biasanya segera akan diserahkan (dijual) kepada pemesan sesuai dengan saat/tanggal pesanan harus diserahkan.

Manfaat perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan, informasi harga pokok produksi
per pesanan bermanfaat bagi manajemen untuk :
1.      Menentukan harga jual yang akan dibebankan kepada pemesan
 Perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan memproses produknya berdasarkan spesifikasi yang ditentukan oleh pemesan. Dengan demikian biaya produksi pesanan yang satu akan berbeda dengan biaya produksi pesanan yang lain, tergantung pada spesifikasi yang dikehendaki oleh pemesan. Oleh karena itu harga jual yang dibebankan kepada pemesan sangat ditentukan oleh besarnya produksi yang akan dikeluarkan untuk memproduksi pesanan tertentu.

2.       Mempertimbangkan penerimaan atau penolakan pesanan
Ada kalanya harga jual produk yang dipesan oleh pemesan telah terbentuk di pasar, sehingga keputusan yang perlu dilakukan oleh manajemen adalah menerima atau menolak pesanan. Untuk memungkinkan pengambilan keputusan tersebut, manajemen memerlukan informasi total harga pokok pesanan yang akan diterima tersebut. Informasi total harga pokok pesanan memberikan perlindungan bagi manajemen agar dalam menerima pesanan perusahaan tidak mengalami kerugian.

3.      Memantau realisasi biaya produksi
Jika suatu pesanan telah diputuskan untuk diterima, manajemen memerlukan informasi biaya produksi yang sesungguhnya dikeluarkan di dalam memenuhi pesanan tertentu. Oleh karena itu, akuntansi biaya digunakan untuk mengumpulkan informasi biaya produksi tiap pesanan yang diterima untuk memantau apakah proses produksi untuk memenuhi tertentu menghasilkan total biaya produksi pesanan sesuai dengan yang diperhitungkan sebelumnya

4.      Menghitung laba atau rugi tiap pesanan
Untuk mengetahui apakah suatu pesanan menghasilkan laba atau tidak, manajemen memerlukan informasi biaya produksi yang telah dikeluarkan untuk memproduksi pesanan tertentu. Informasi laba atau rugi tiap pesanan diperlukan untuk mengetahui kontribusi tiap pesanan dalam menutup biaya non produksi dan menghasilkan laba atau rugi. Oleh karena itu, metode harga pokok pesanan oleh manajemen untuk mengumpulkan informasi biaya produksi sesungguhnya keluarkan untuk tiap pesanan guna menghasilkan informasi laba atau  rugi tiap pesanan

5.      Menentukan harga pokok persediaan produk jadi dan produk dalam proses yang disajikan dalam neraca
Pada saat perusahaan dituntut untuk membuat pertanggungjawaban keuangan periodik, manajemen harus menyajikan laporan keuangan berupa neraca dan laporan laba rugi. Di dalam neraca manajemen harus menyajikan harga pokok persediaan barang jadi dan harga pokok yang sampai dengan tanggal neraca masih dalam proses. Untuk tujuan tersebut, manajemen perlu menyelenggarakan pencatatan biaya produksi untuk setiap pesanan. Berdasarkan catatan biaya produksi tiap pesanan tersebut manajemen dapat menentukan biaya produksi yang melekat pada pesanan yang telah selesai diproduksi, namun pada tanggal neraca belum diserahkan kepada pemesan. Di samping itu, berdasarkan catatan itu pula manajemen dapat menentukan harga pokok dari produk yang sampai dengan tanggal penyajian neraca masih dalam proses pengerjaan
2.2 Aliran Kegiatan dan Aliran Biaya  Metode Harga Pokok Pesanan


Aliran harga pokok (flow of cost) menunjukkan aliran biaya produksi dalam rangka kegiatan
pengolahan bahan baku menjadi produk selesai yang selanjutnya dijual dan oleh karena itu harga pokok produk akan dipengaruhi atau tergantung pada aliran kegiatan (flow of activity)
perusahaan manufaktur dalam mengolah bahan baku menjadi produk selesai dan menjualnya. Berikut beberapa kegiatan dalam aliran kegiatan produksi :

1. Pengadaan (Procurement)
Pengadaan adalah kegiatan untuk memperoleh atau mengadakan barang dan jasa yang
akan dikonsumsi dalam kegiatan produksi, dapat dikelompokkan ke dalam :
a) Pembelian, penerimaan, dan penyimpanan bahan baku, bahan penolong, suplies
pabrik dan elemen (barang) lainnya yang akan dikonsumsi dalam kegiatan produksi.
b) Perolehan jasa dari tenaga kerja langsung, tenaga kerja tidak langsung dan jasa
lainnya yang tidak dikonsumsi dalam kegiaan produksi.

2. Produksi (Production)
Produksi adalah kegiatan mengolah bahan baku menjadi produk selesai. Pada kegiatan tersebut akan dikonsumsi bahan baku, tenaga kerja langsung, barang dan jasa lainnya yang dikelompokkan dalam overhead pabrik.

3. Penyimpanan Produk Selesai (Warehousing of finish goods)
Produk yang telah selesai diproduksi dari pabrik akan dipindahkan ke dalam gudang
produk selesai menunggu saat dijual atau diserahkan kepada pemesan.

4. Penjualan Produk Selesai (Selling of finish products)
Produk yang sudah laku dijual akan dikeluarkan dari gudang produk selesai untuk dikirim kepada pembeli, dan perusahaan dapat membebani rekening langganan atau pembeli.
Dalam rangka pengadaan bahan baku akan membentuk harga perolehan persediaan bahan baku, pengadaan jasa karyawan menimbulkan biaya gaji dan upah, konsumsi bahan penolong dan barang lain serta jasa yang dikelompokkan dalam overhead pabrik menimbulkan biaya overhead pabrik.

Dalam rangka pengolahan produk, bahan baku yang dikonsumsi membentuk Barang Dalam Proses-Biaya Bahan Baku, tenaga kerja yang dikonsumsi membentuk Barang Dalam Proses-Biaya Tenaga Kerja Langsung, biaya overhead yang dikonsumsi membentuk Barang dalam proses-Biaya overhead pabrik. Dalam rangka penyimpanan produk selesai sebelum dijual akan membentuk harga pokok Persediaan Produk Selesai. Dalam rangka penjualan produk, harga pokok persediaan produk selesai yang dijual akan membentuk Harga Pokok Penjualan

Sedangkan untuk aliran biaya produksi, berikut adalah ilustrasinya :





Aliran Biaya Produksi


Untuk pencatatan akuntansi, pengaruh aliran biaya tersebut akan dinyatakan dalam pendebetan dan pengkreditan rekening buku besar. Selain itu, perlu diselenggarakan buku besar pembantu (subsidiary ledgers) yang berfungsi untuk merinci lebih lanjut rekening buku besar tertentu sesuai dengan informasi yang diinginkan oleh manajemen.

Rekening Buku Besar                                   Rekening Buku Besar Pembantu
1.Persediaan bahan Baku                                - Kartu Persediaan Bahan Baku yang
diselenggarakan perpetual :
Persediaan soda
Persediaan pasir
Persediaan kaolin, dan sebagainya
2.Biaya Overhead Pabrik                                - Kartu Biaya Overhead Pabrik (expense ledger
of factory overhead)
Biaya Bahan Penolong
Biaya Tenaga Kerja Tidak Langsung
Biaya Penyusutan Mesin
Biaya Reparasi, dan sebagainya
3.Biaya Pemasaran                                          - Kartu Biaya Pemasaran
Gaji dan Konsumsi
Biaya Advertensi
Suplies Penjualan dan  sebagainya

4.Biaya Administrasi Umum                          - Kartu Biaya Administrasi Umum
Gaji Direktur, Staf dan Karyawan
Perjalanan Dinas
Suplies Administrasi dan Umum, dsb
5.Barang Dalam Proses                                   - Kartu Harga Pokok Pesanan
Botol Sprite
Botol Fanta, dsb
6.Persediaan Produk Selesai                           - Kartu harga pokok pesanan yang sudah selesai
dipindahkan fungsinya sebagai kartu pembantu
persediaan produk selesai
.7Harga Pokok Penjualan                                - Kartu Harga Pokok Pesanan yang selesai dan
sudah diserahkan kepada pemesan,
dipindahkan fungsinya sebagai kartu pembantu

2.3 Kartu Harga Pokok Pesanan (Job order cost sheet)
Kartu harga pokok merupakan catatan yang penting dalam metode harga pokok pesanan. Kartu harga pokok ini berfungsi sebagai rekening pembantu, yang digunakan untuk mengumpulkan biaya produksi tiap pesanan produk. Biaya produksi untuk mengerjakan pesanan tertentu dicatat secara rinci dalam kartu harga pokok pesanan yang bersangkutan. Biaya produksi dipisahkan menjadi biaya produksi langsung terhadap pesanan tertentu dan biaya produksi tidak langsung dalam hubungannya dengan pesanan tersebut. Biaya produksi langsung dicatat dalam kartu harga pokok pesanan yang bersangkutan secara langsung, sedangkan biaya produksi tidak langsung dicatat dalam kartu harga pokok berdasarkan suatu tarif tertentu. Berikut ini adalah bentuk dari kartu biaya pesanan atau kartu harga pokok pesanan :


PT ABC
Surabaya
KARTU BIAYA PESANAN

No Pesanan     : 110                                        Pemesan                     :
Jenis Produk    :                                               Sifat Pesanan  :
Tgl Pesan         :                                               Jumlah             :
Tgl Selesai       :                                               Harga Jual       :
Biaya Bahan Baku
Biaya Tenaga Kerja
Biaya Overhead Pabrik
Tgl
No BPBG
Ket
Jml
Tgl
No Kartu Jam Kerja
Jml
Tgl
Dasar
Tarif
Jml


Kertas X
Tinta B

Jumlah






Jumlah


BTKL*


Jumlah











Jumlah total biaya  produksi





2.4  Perlakuan akuntansi biaya pada metode harga pokok pesanan

Prosedur akuntansi biaya pada metode harga pokok pesanan meliputi organisasi formulir, catatan-catatan dan laporan-laporan yang terkoordinasi dalam rangka melaksanakan kegiatan
untuk melayani pesanan dan menyajikan informasi biaya bagi manajemen. Dalam hal ini prosedur akuntansi biaya dapat dikelompokkkan sebagai berikut.

1. Prosedur akuntansi biaya bahan dan suplies
Prosedur akuntansi biaya bahan dan suplies meliputi prosesdur pembelian sampai dengan pemakaian bahan dan suplies di dalam pabrik. Agar supaya jumlah persediaan bahan dapat
diketahui setiap saat, umumnya perusahaan menggunakan metode persediaan perpetual (perpetual inventory method). Taapan-tahapan prosedur akuntansinya adalah sebagai berikut.

a. Pembelian bahan dan Suplies
Pembelian bahan dan suplies dimulai dari pembuatan pesanan pembelian (purchases order) oleh bagian pembelian dan mengirimkannya kepada supplier. Apabila bahan dan suplies yang dipesan dating, oleh Seksi Gudang Bahan dibuatkan dokumen berupa bukti penerimaan barang setelah diperiksa kecocokan jumlah dan kualitas barang yang dibeli. Faktur pembelian dari supplier bersama pesanan pembelian dan bukti penerimaan barang diberikan pada Departemen Akuntansi untuk dibuat jurnal dan memasukkan ke dalam rekening buku besar pembantu yaitu Kartu
Persediaan.
Jurnal pembelian bahan dan suplies secara kredit sebagai berikut :
Persediaan Bahan Baku Rp     xx
Persediaan Bahan Penolong   xx
Persediaan Suplies                  xx
Hutang Dagang Rp                  xx
Apabila pembelian bahan dan suplies secara tunai rekening buku besar yang dikredit
adalah kas

b. Pengembalian (Return) Bahan dan Suplies yang Dibeli kepada Suplier
Apabila bahan dan suplies yang dibeli tidak sesuai dengan yang dipesan, maka perusahaan dapat mengembalikan kepada supplier dengan dibuatkan dokumen yang
disebut nota debet (debet memorandum) atau lapoean pengiriman pengembalian pembelian. Dari nota debet oleh Departemen Akuntansi dibuatkan jurnal dan dimasukkan ke dalam rekening buku besar pembantu persediaan sesuai dengan bahan
dan suplies yang dikembalikan kepada supplier.
Jurnal pengembalian bahan dan suplies kepada supplier adalah sebagai berikut :
Hutang Dagang Rp                          xx
Persediaan Bahan Baku Rp     xx
Persediaan Bahan Penolong xx
Persediaan Suplies Pabrik        xx
Apabila harga bahan dan suplies yang dikembalikan sudah dibayar akan didebet kas
atau piutang dagang.

c. Potongan Pembelian (Tunai) atas Pembelian Bahan dan Suplies
Seringkali dalam pembelian bahan dan suplies diperoleh potongan pembelian, apabila praktis potongan tunai mengurangi harga perolehan bahan dan suplies, oleh karena itu dari Bukti Kas ke Luar akan dibuat jurnal dan dimasukkan ke dalam kartu persediaan.
Jurnalnya adalah sebagai berikut.
Hutang Dagang Rp                             xx
Persediaan Bahan Baku Rp                xx
Persediaan Bahan Penolong              xx
Persediaan Suplies Pabrik                  xx
Kas                                                      xx

d. Pemakaian Bahan dan Suplies
Berdasarkan perintah produksi, departemen produksi yang memerlukan mengisi dokumen bon permintaan bahan kepada seksi gudang bahan untuk meminta bahan8 baku, bahan penolong, suplies pabrik dan barang lainnya yang diperlukan untuk mengolah produk yang dipesan pembeli. Bon permintaan bahan untuk meminta bahan baku akan menunjukkan bagian yang meminta, elemen dan jumlah satuan bahan baku yang diminta, serta pesanan yang memerlukan bahan baku tersebut. Dokumen ini akan dikirimkan pada departemen akuntansi dan oleh seksi akuntansi biaya dokumen bon permintaan bahan tersebut akan diisi harga perolehan satuan dan jumlah totalnya untuk dasar pembuatan jurnal dan memasukkan ke dalam Kartu Persediaan Bahan Baku dan Kartu Harga Pokok Pesanan yang bersangkutan.
Jurnal pemakaian bahan baku adalah sebagai berikut.
Barang Dalam Proses-Biaya Bahan Baku Rp xx
Persediaan Bahan Baku                                 Rp xx
Bon Permintaan Bahan untuk bahan penolong akan menunjukkan bagian yang meminta, serta elemen dan jumlah bahan penolong yang diminta. Dokumen ini dikirimkan ke departemen Akuntansi untuk diisi harga perolehan satuan dan jumlahnya oleh Seksi Akuntansi Biaya untuk dasar pembuatan jurnal dan memasukkan ke dalam Kartu Persediaan Bahan Penolong dan Kartu Biaya Overhead Pabrik. Dalam metode harga pokok pesanan, biaya overhead pabrik dibebankan pada
pesanan atas dasar tariff yang ditentukan di muka, oleh karena itu perusahaan akan
menyelenggarakan rekening buku besar Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya untuk
menampung biaya yang sesungguhnya dan rekening Biaya Overhead Pabrik Dibebankan untuk menampung biaya yang dibebankan kepada pesanan.
Jurnal pemakaian bahan penolong sebagai berikut.
Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Rp xx
Persediaan Bahan Penolong                          Rp xx

Prosedur pemakaian suplies pabrik sama dengan prosedur pemakaian bahan penolong,
setelah dokumen tersebut dilengkapi oleh Seksi Akuntansi Biaya data harga perolehan
satuan dan total, akan dibuat jurnal dan dimasukkan ke dalam Kartu Persediaan Suplies Pabrik dan Kartu Biaya Overhead Pabrik.9
Jurnal pemakaian suplies pabrik sebagai berikut.
Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Rp  xx
Persediaan Suplies Pabrik                              Rp xx

e. Pengembalian Bahan Vaku dari Pabrik ke Gudang bahan
Dapat pula timbul pengembalian bahan baku dari parik ke udang bahan. Misalnya, terjadi kelebihan bahan baku yang diminta dengan bahan baku yang dipakai sesungguhnya oleh pesanan tertentu, agar bahan baku tidak rusak di pabrik maka bahan baku tersebut dibuatkan dokumen yang disebut Laporan Pengembalian Bahan oleh Departemen Produksi dikirimkan ke Seksi Gudang Bahan dan tembusannya di
Departemen Akuntansi untuk membuat jurnal dan memasukkan ke Kartu Persediaan
Bahan Baku dan Kartu Harga Pokok Pesanan yang bersangkutan.
Jurnal yang dibuat sebagai berikut.
Persediaan Bahan Baku                                 Rp  xx
Barang Dalam Proses – Biaya Bahan Baku              Rp xx



2. Prosedur akuntansi biaya tenaga kerja
Prosedur akuntansi biaya tenaga kerja meliputi prosedur terjadinya gaji dan upah,pembayaran gaji dan upah, dan distribusi gaji dan upah untuk semua karyawan perusahaan baik produksi maupun non produksi, baik karyawan yang gajinya tetap per bulan maupun yang ditentukan oleh jam kerjanya.
Tahap-tahap transaksi biaya tenaga kerja sebagai berikut:
a. Penentuan Besarnya Gaji dan Upah
Cara penentuan besarnya gaji dan upah karyawan dapat dikelompokkan menjadi dua
yaitu :
(1) Gaji dan Upah karyawan besarnya tergantung pada lamanya waktu kerja (jam
kerja) atas jumlah produk yang dihasilkan.

Apabila karyawan di bayar atas dasar lamanya waktu kerja, umumnya system ini hanya untuk tenaga kerja langsung, untuk menentukan besarnya upah diperlukan dokumen Daftar Hadir (Kartu Presensi atau Time Clock Card) yang menunjukkan data jumlah jam kerja karyawan setiap hari dalam jangka waktu pembayaran upah. Untuk mengetahui penggunaan waktu kerja karyawan di pabrik dalam mengerjakan pesanan atau jumlah produk yang dihasilkan digunakan kartu jam kerja karyawan (Job Time Ticket atau Labor Time Ticket). Manfaat kartu ini yaitu untuk memasukkan biaya tenaga kerja langsung pada setiap kartu harga pokok pesanan. Untuk pengawasan tenaga kerja, jumlah jam dalam daftar hadir relative harus sama dengan jumlah jam pada kartu jam kerja karyawan. Dari daftar hadir akan disusun daftar upah karyawan yang menunjukkan data jumlah gaji dan upah kotor, potongan atas gaji dan upah misalnya pajak pendapatan dan dana pension serta gaji dan upah bersih yang akan dibayarkan kepada karyawan.

(2) Gaji dan Upah karyawan tetap per bulan
Untuk karyawan tetap per bulan fungsi daftar hadir untuk mengetahui kedisiplinan karyawan apakah sering dating terlambat dan pulang lebih cepat atau dating dan pulang pada waktu yang tepat. Umumnya system ini dipakai untuk pimpinan, staf, karyawan perusahaan yang tidak termasuk tenaga kerja langsung dalam produksi.

Setiap menjelan akhir bulan akan disusun daftar gaji an karyawan yang menunjukkan data jumlah gaji kotor yaitu gaji pokok ditambah tunjangan-tunjangan, potongan-potongan atas gaji, serta gaji bersih yang akan dibayarkan kepada karyawan.

Jurnal untuk mencatat terjadinya gaji dan upah, baik untuk karyawan tetap maupun karyawan berdasar lamanya waktu kerja, adalah sebagai berikut :
Biaya Gaji dan upah                                       Rp xx
Hutang Pajak Pendapatan                                          Rp xx
Hutang Dana Pensiun                                                            Rp xx
Hutang Asuransi Tenaga Kerja (Astek)                      Rp xx
Hutang Asuransi Hari Tua (AsHT)                             Rp xx
Piutang Karyawan                                                      Rp xx
Hutang Gaji dan Upah                                               Rp xx
Keterangan :
Perusahaan bertindak sebagai wajib pungut atau wajib potong atas pajak pendapatan, dana pensiun hari tua, asuransi tenaga kerja yang nantinya akan disetorkan kepada badan-badan yang berhak.

b. Pembayaran atas Gaji dan Upah
Menjelang tanggal penyerahan gaji dan upah, Kasir membayarkan gaji dan upah kepada Juru Bayar Gaji dengan menggunakan dokumen Buku Kas ke luar saat gaji dibayarkan, Juru Bayar Gaji meminta karyawan untuk menghitung keseuaian gaji dan
upahnya serta menandatangani Daftra Gaji dan Upah. Jurnal Pembayaran gaji dan
upah sebagai berikut.
Hutang Gaji dan Upah     Rp xx
K a s                                        Rp xx

c. Distribusi Biaya Gaji dan Upah
Melalui dokumen Perintah Jurnal biaya gaji dan upah didistribusikan sesuai dengan fungsi produksi, fungsi pemasaran, dan fungsi administrasi dan umum. Biaya gaji dan upah untuk produksi dikumpulkan ke dalam biaya tenaga kerja langsung dan biaya tenaga kerja tidak langsung yang merupakan elemen biaya overhead pabrik sesungguhnya. Biaya tenaga kerja langsung akan dimasukkan ke dalam rekening Barang Dalam Proses- Biaya Tenaga Kerja Langsung dan Kartu Harga Pokok
Pesanan, sedangkan elemen gaji dan upah lainnya ke Kartu Biaya yang bersangkutan.
Jurnal distribusi gaji dan upah sebagai berikut:
Barang Dalam Proses-Biaya Tenaga Kerja Langsung          Rp xx
Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya                                  Rp xx
Biaya Pemasaran                                                                    Rp xx
Biaya Administrasi dan Umum                                               Rp xx
Biaya Gaji dan Upah                                                              Rp xx

d. Beban atas Gaji dan Upah yang Ditanggung Perusahaan
Pada perusahaan tertentu seringkali perusahaan ikut menanggung sebagian beban atas gaji dan upah yang berupa pajak pendapatan, dana pension, asuransi hari tua, atau asuransi tenaga kerja karyawan. Beban yang ditanggung perusahaan merupakan elemen biaya, beban yang berhubungan dengan karyawan pabrik diperlakukan sebagai elemen biaya overhead pabrik sesungguhnya karena sifat biaya ini tidak dapat
diidentifikasikan pada produk tertentu, beban yang berhubungan dengan karyawan pemasaran masuk elemen biaya pemasaran, beban yang berhubungan dengan  karyawan administrasi dan umum masuk elemen biaya administrasi dan umum.
Besarnya biaya beban atas gaji dan upah, dibuatkan dokumen Daftar Sumbangan
Gaji dan Upah, atas dasar tersebut dibuat jurnal dan dimasukkan Kartu Biaya.
Jurnal transaksi tersebut dalah sebagai berikut:
Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya          Rp xx
Biaya Pemasaran                                            Rp xx
Biaya Administrasi dan Umum                       Rp xx
Hutang Pajak Pendapatan                                          Rp xx
Hutang Dana Pensiun                                                Rp xx
Hutang Asuransi Tenaga Kerja                                  Rp xx
Hutang Asuransi Hari Tua                                         Rp xx
e. Penyetoran Potongan dan beban atas Gaji dan upah kepada badan-badan yang berhak
Dokumen Bukti Kas Keluar digunakan untuk menyetorkan potongan dan beban
atas gaji dan upah pada badan-badan yang berhak. Jurnal untuk mencatat transaksi
tersebut adalah sebagai berikut:
Hutang Pajak Pendapatan                  Rp xx
Hutang Dana Pensiun                        Rp xx
Hutang Asuransi Tenaga Kerja          Rp xx
Hutang Asuransi Hari Tua                 Rp xx
K a s                                                    Rp xx

3. Prosedur akuntansi biaya overhead pabrik
Biaya overhead pabrik merupakan biaya yang paling kompleks, untuk ketelitian dan
keadilan pembebanan harus digunakan tariff biaya overhead pabrik yang ditentukan di
muka. Alasan pemakaian tarif pembebanan adalah sebagai berikut:
1. Adanya biaya overhead yang timbul setelah aktivitas berlalu. Misalnya, reparasi aktiva tetap disebabkan pemakaian masa lalu, maka apabila pembebanan pada pesanan dilakukan saat terjadinya biaya, berakibat menjadi tidak teliti dan adil.
2. Adanya biaya yang dapat dihitung pada akhir periode. Misalnya, penyusutan, biaya
listrik PLN. Biaya ini apabila dibebankan pada pesanan saat dapat dihitung berakibat
menjadi tidak teliti dan adil.16
3. Adanya biaya yang terjadi hanya pada interval waktu tertentu. Misalnya pada setahun dibayar sekali atau dicicil dua kali. Biaya ini apabila dibebankan pada pesanan saat terjadinya, berakibat menjadi tidak teliti atau adil karena maanfaat Ipeda dinikmati selama satu tahun.

Dua uraian tersebut jelas bahwa biaya overhead yang sesungguhnya baru dapat dihitung pada akhir periode, padahal harga pokok pesanan harus dihitung saat pesanan selesai tanpa menunggu akhir periode. Jadi, untuk membebankan biaya overhead pabrik kepada pesanan harus digunakan tarif yang ditentukan di muka. Rumus perhitungan tarif biaya overhead pabrik adalah sebagai berikut:
T=   B
       K
di mana :
T  =  Tarif biaya overhead pabrik
B  =  Budget biaya overhead pabrik periode tertentu
K  =  Budget kapasitas pembebanan untuk periode bersangkutan
Apabila tarif biaya overhead pabrik sudah ditentukan, prosedur akuntansi biaya
overhead pabrik selanjutnya sebagai berikut.


a. Prosedur Pembebanan Biaya Overhead Pabrik pada Pesanan
Suatu pesanan akan dibebani biaya overhead pabrik sesuai dengan kepastian sesungguhnya yang dinikmati oleh pesanan yang bersangkutan dikalikan dengan tarif
biaya overhead pabrik yang ditentukan di muka. Atas dasar dokumen Perintah Jurnal
dibuatkan jurnal pembebanan dan dimasukkan ke dalam Kartu Harga Pokok Pesanan.
Jurnal pembebanan sebagai berikut.
Barang Dalam Proses – Baiya Overhead Pabrik Rp xx
Biaya Overhead Pabrik Dibebankan                          Rp xx

b. Prosedur Akuntansi Pengumpulan Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya
Biaya overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi dalam periode yang bersangkutan akan ditampung dalam rekening Biaya Overhead Pabrik sesungguhnya dan dimasukkan ke dalam Kartu Pembantu Biaya Overhead Pabrik. Jurnal setiap elemen biaya overhead pabrik .
(1) Biaya Bahan Penolong
Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Rp xx
Persediaan Bahan Penolong                          Rp xx
(2) Biaya Tenaga Kerja Tidak Langsung
Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Rp xx
Biaya Gaji dan Upah                                      Rp xx 
Beban atas gaji dan upah yang ditanggung perusahaan dengan dokumen daftar sumbangan Gaji dan Upah dijurnal.
Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Rp xx
Hutang P.Pd                                       Rp xx
Hutang D.Pn                                       Rp xx
Hutang Astek                                       Rp xx
Hutang AsHT Rp                                Rp xx
(3) Biaya Penyusutan dan Amortisasi Aktiva Tetap Pabrik
Pada akhir periode dibuat dokumen Perintah Jurnal untuk mencapai biaya penyusutan dan amortisasi aktiva tetap pabrik, dan dibuat jurnal sebagai berikut:




Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya          Rp xx
Akumulasi Penyusutan Mesin             Rp xx
Akumulasi Penyusutan Bangunan      Rp xx
Akumulasi Penyusutan Peralatan       Rp xx
Amortisasi Hak Paten                                     Rp xx

(4) Biaya Reparasi dan Pemeliharaan Aktiva Tetap Pabrik
Biaya reparasi dan pemeliharaan dapat timbul dari reparasi dan pemeliharaan yang dilakukan sendiri oleh karyawan perusahaan. Dalam hal ini biaya yang timbul adalah biaya pemakaian suplies dan suku cadang, biaya tenaga kerja tidak langsung dan penyusutan peralatan reparasi dan pemeliharaan. Untuk biaya suplies, tenaga kerja tidak langsung dan penyusutan peralatan jurnalnya telah  dibuat pada pembahasan di muka, jurnal untuk pemakaian suku cadang sebagai berikut.
Saat  dibeli :
Persediaan Suku Cadang                    Rp xx
Hutang Dagang atau Kas                   Rp xx
Saat dipakai :
Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Rp xx
Persediaan Suku Cadang                    Rp xx
Biaya reparasi dapat pula timbul dari pembelian jasa reparasi dan pemeliharaan kepada pihak luar, dari dokumen Bukti Kas Keluar untuk yang sudah dibayar atau dokumen Faktur Pembelian Jasa dan Perintah Jurnal yang belum dibayar dibuat jurnal Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Rp xx
Kas                                                      Rp xx
Hutang Biaya                                      Rp xx

(5) Biaya Listrik dan Air untuk pabrik
Listrik PLN dan air PAM yang dikonsumsi perusahaan dan sudah dibayar digunakan dokumen. Bukti Kas Keluar, yang belum dibayar dibuat dokumen perintah jurnal akan dibuat jurnal sebagai berikut.
Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Rp xx
Kas                                                      Rp xx
Hutang Biaya                                      Rp xx

(6) Biaya Asuransi Pabrik
Biaya ini umumnya timbul dari berakhirnya (expired) sebagian persekot asuransi,pada saat persekot asuransi dibayar digunakan dokumen Bukti Kas Keluar, pada saat diperhitungkan biaya digunakan dokumen Perintah Jurnal. Jurnal dari persekot asuransi dan biaya asuransi sebagai berikut:
Terjadinya pembayaran persekot asuransi :
Persekot Asuransi Rp xx
Kas                              Rp xx
Persekot asuransi menjadi biaya :
Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya   Rp xx         
Persekot Asuransi                               Rp xx
(7) Biaya Overhead lain-lain
Elemen biaya yang dapat dimasukkan pada golongan pada golongan biaya di atas dimasukkan di dalam biaya overhead pabrik lain-lain, rekening yang dikredit tergantung dari penyebab timbulnya biaya tersebut. Misalnya sebagian biaya overhead lain-lain sudah dibayar dan sebagian masih terhutang dibuat jurnal.
Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Rp xx
Kas                                                      Rp xx
Hutang Biaya                                      Rp xx

c. Prosedur Akuntansi Perhitungan dan Perlakuan selisih Biaya Overhead Pabrik
Pada akhir periode akuntansi akan dihitung besarnya selisih biaya overhead pabrik yang sesungguhnya dengan yang dibebankan kepada pesanan, dengan perintah jurnal akan dibuat jurnal sebagai berikut.
(1) Jurnal menutup Biaya overhead Pabrik Dibebankan ke Biaya Overhead
Pabrik Sesungguhnya.
Biaya Overhead Pabrik Dibebankan              Rp xx
Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya          Rp xx
(2) Jurnal untuk menutup Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya dan menghitung selisih sebagai berikut.
Apabila biaya overhead sesungguhnya lebih besar dibanding biaya overhead dibebankan (selisih tidak menguntungkan atau unfavorable variance atau under applied factory overhead)
Selisih Biaya Overhead Pabrik           Rp xx
Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya          Rp xx
Apabila Biaya Overhead yang sesungguhnya lebih kecil dibandingkan Biaya overhead dibebankan (selisih menguntungan atau favorable variance atau over
applied factory overhead) :
Biaya Overhead Sesungguhnya          Rp xx
Selisih Biaya Overhead Pabrik           Rp xx
(3) Salah satu perlakuan selisih yaitu masuk ke rekening Rugi-Laba
Selisih tidak menguntungkan :
Rugi-Laba                               Rp xx
Selisih Biaya Overhead Pabrik           Rp xx
Selisih menguntungkan :
Selisih Biaya Overhead Pabrik Rp xx
Rugi-Laba                                           Rp xx

4. Prosedur akuntansi produk selesai dan produk dalam proses akhir periode
Pada metode harga pokok pesaan setiap ada pesanan yang selesai dipindahkan dari Departemen Produksi ke Seksi Gudang Produk Selesai dan harus dihitung harga pokoknya,jumlah harga pokok yang selesai dapat dihitung dengan merekam Kartu Harga Pokok Pesanan dan selanjutnya memindahkan kartu tersebut dari fungsinya sebagai rekening pembantu Barang Dalam Proses ke fungsi yang baru sebagai pembantu rekening Persediaan Produk Selesai. Atas dasar dokumen Bukti Pemindahan Produk Selesai dan Perintah Jurnal sebagai berikut.
Persediaan Produk Selesai                                         Rp xx
Barang Dalam Proses – Biaya Bahan Baku                          Rp xx
Barang Dalam Proses – Biaya Tenaga Kerja Langsung       Rp xx
Barang Dalam Proses – Biaya Overhead Pabrik                   Rp xx







2.5  Menghitung HPP dan Laporan Rugi-Laba untuk perusahaan berdasarkan pesanan

Menghitung Harga Pokok Produksi

                                                                   PT. GHI
Laporan Harga Pokok Produksi
Untuk periode yang berakhir 31 Des 2000
 

Persediaan Bahan Baku Langsung                             Rp xxxxxx
Pembelian Bahan Baku Langsung                              Rp xxxxxx

            BBL tersedia untuk diproduksi                                              Rp xxxxx
Persediaan BBL akhir                                                                         (Rp xxxxx)     

            BBL yang digunakan                                                                                      Rp xxxxxx
Biaya Tenaga Kerja Langsung                                                                                    Rp xxxxxx
Biaya Overhead Pabrik di bebankan                                                                          Rp xxxxxx

Harga Pokok Produksi                                                                                             Rp xxxxx













Menghitung Laba atau Rugi
                                                                                     PT. GHI
Laporan Laba Rugi
Untuk periode yang berakhir 31 Des 2000
 

Penjualan                                                                                             Rp xxxxxx
HPP                                                             Rp xxxxx
Selisih BOP                                                (Rp xxxxx)

                                                                                                            Rp xxxxxx

                                                                                                            Rp xxxxxx
Beban Usaha   :
Beban pemasaran                                            Rp xxxxx
Beban administrasi                                          Rp xxxxx

dll                                                                                                        Rp xxxxxx

            Laba/Rugi sebelum pajak                                                    Rp xxxxxx













BAB 3
AKUNTANSI BIAYA
METODE HARGA POKOK PESANAN





















KATA PENGANTAR
                                                                                                                                          
Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT yang senantiasa melimpahkan Rahmat dan KaruniaNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan penuh kemudahan.
Makalah ini disusun agar pembaca dapat mengetahui dan memahami materi dalam Metode Harga Pokok Pesanan di dalam Perusahaan. Adapun tujuan penulis menyajikan makalah ini adalah untuk memberikan beberapa ilmu pada mata kuliah Akuntansi Biaya dan juga untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh dosen pembimbing.
Akhir kata Penulis berharap semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca, dan dapat disempurnakan dimasa-masa yang akan datang.


                                                Oktober,      2012


Penulis



 


 



i

DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR...................................................................................................... i     

DAFTAR ISI  .................................................................................................................. ii

BAB I    PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang............................................................................................. 1
               1.2 Rumusan Masalah........................................................................................ 1
               1.3 Tujuan Penulisan.......................................................................................... 1

BAB II   PEMBAHASAN

2.1   Karakteristik Perusahaan dan Metode Harga Pokok Pesanan.................... 2
2.2  Aliran Kegiatan dan Aliran biaya Metode Harga Pokok Pesanan............... 4
2.3  Kartu Harga Pokok Pesanan........................................................................ 7
2.4  Perlakuan Akuntansi Biaya pada Metode Harga Pokok Pesanan............... 8
2.5 Menghitung HPP dan Laporan Laba/Rugi berdasarkan Pesanan.............. 20     

BAB III  PENUTUP
3.1  Kesimpulan................................................................................................ 22

DAFTAR REFERENSI.................................................................................................. iii





ii
REFERENSI

Hendri Somantri,Drs.Akuntansi Biaya SMK,ARMICO:Bandung,1994.
Mulyadi,Akuntansi Biaya,Edisi 5,Aditya Media:Yogyakarta,1991.



















Iii

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Informasi mengenai harga pokok produksi sangat penting bagi perusahaan yaitu sebagai pedoman bagi pihak manajemen dalam rangka menentukan harga jual yang akan ditawarkan kepada pembeli, agar mampu bersaing di pasar. Pengumpulan biaya produksi dalam suatu perusahaan dipengaruhi oleh karakteristik kegiatan produksi perusahaan tersebut. Oleh karena itu perusahaan harus mampu menganalisa setiap kebijakan yang akan diambilnya. Dan menyesuaikan metode-metoe yang mereka pilih dengan jurnal-jurnal dan aturan-aturan per metode tersebut.

1.2  Rumusan Masalah

1.2.1 Apa itu Metode Harga Pokok Pesanan?

1.2.2 Bagaimana cara membuat jurnal dalam metode harga pokok pesanan?
1.2.3 Bagaimana cara menbuat Kartu Biaya Pesanan



1.3  Tujuan Penulisan


1.3.1        Mengetahui karakteristik perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan
1.3.2        Melakukan akumulasi biaya berdasarkan pesanan
1.3.3        Membuat ayat jurnal akuntansi biaya berdasarkan metode harga pokok pesanan
1.3.4        Membuat kartu biaya pesanan



BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Karakteristik perusahaan dan metode harga pokok pesanan

Metode harga pokok pesanan adalah perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan mengolah bahan baku menjadi produk jadi berdasarkan pesanan dari luar atau dari dalam perusahaan. Karakteristik usaha perusahaan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Proses pengolahan produk terjadi secara terputus-putus. Jika pesanan yang satu selesai dikerjakan, proses produksi dihentikan dan mulai dengan pesanan berikutnya.
2. Produk dihasilkan sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan oleh pemesan. Dengan demikian antara pemesan yang satu dengan yang lainnya mempunyai variasi yang berbeda-beda.
3. Produksi ditujukan untuk memenuhi pesanan, bukan untuk memenuhi persediaan gudang.
Pada perusahaan yang menggunakan metode harga pokok peasanan memiliki karakteristik
sebagai berikut.
1. Tujuan produksi perusahaan untuk melayani pesanan pembeli yang bentuknya tergantung pada spesifikasi pemesan, sehingga produksinya terputus-putus dan setiap pesanan dapat dipisahkan identitasnya secara jelas.
2. Setiap pesanan memiliki spesifikasi tersendiri dan setiap jenis produk perlu dihitung harga pokok produksinya secara individual.
3. Biaya produksi harus digolongkan berdasarkan hubungannya dengan produk menjadi biaya produksi langsung dan biaya produksi tidak langsung.
4. Biaya produksi langsung diperhitungkan sebgai harga pokok produksi pesanan tertentu berdasarkan biaya yang sesungguhnya terjadi, sedangkan biaya overhead pabrik diperhitungkan ke dalam harga pokok pesanan berdasarkan tariff yang ditentukan di muka
5. Jumlah total harga pokok untuk pesanan tertentu dihitung pada saat pesanan yang
bersangkutan selesai, dengan menjumlahkan semua biaya yang dibebankan kepada
pesanan yang bersangkutan.
6. Harga pokok satuan untuk pesanan tertentu dihitung dengan membagi jumlah total harga pokok pesanan yang bersangkutan dengan jumlah satuan produk pesanan yang
bersangkutan.
7. Pesanan yang sudah selesai dimasukkan ke gudang produk selesai dan biasanya segera akan diserahkan (dijual) kepada pemesan sesuai dengan saat/tanggal pesanan harus diserahkan.

Manfaat perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan, informasi harga pokok produksi
per pesanan bermanfaat bagi manajemen untuk :
1.      Menentukan harga jual yang akan dibebankan kepada pemesan
 Perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan memproses produknya berdasarkan spesifikasi yang ditentukan oleh pemesan. Dengan demikian biaya produksi pesanan yang satu akan berbeda dengan biaya produksi pesanan yang lain, tergantung pada spesifikasi yang dikehendaki oleh pemesan. Oleh karena itu harga jual yang dibebankan kepada pemesan sangat ditentukan oleh besarnya produksi yang akan dikeluarkan untuk memproduksi pesanan tertentu.

2.       Mempertimbangkan penerimaan atau penolakan pesanan
Ada kalanya harga jual produk yang dipesan oleh pemesan telah terbentuk di pasar, sehingga keputusan yang perlu dilakukan oleh manajemen adalah menerima atau menolak pesanan. Untuk memungkinkan pengambilan keputusan tersebut, manajemen memerlukan informasi total harga pokok pesanan yang akan diterima tersebut. Informasi total harga pokok pesanan memberikan perlindungan bagi manajemen agar dalam menerima pesanan perusahaan tidak mengalami kerugian.

3.      Memantau realisasi biaya produksi
Jika suatu pesanan telah diputuskan untuk diterima, manajemen memerlukan informasi biaya produksi yang sesungguhnya dikeluarkan di dalam memenuhi pesanan tertentu. Oleh karena itu, akuntansi biaya digunakan untuk mengumpulkan informasi biaya produksi tiap pesanan yang diterima untuk memantau apakah proses produksi untuk memenuhi tertentu menghasilkan total biaya produksi pesanan sesuai dengan yang diperhitungkan sebelumnya

4.      Menghitung laba atau rugi tiap pesanan
Untuk mengetahui apakah suatu pesanan menghasilkan laba atau tidak, manajemen memerlukan informasi biaya produksi yang telah dikeluarkan untuk memproduksi pesanan tertentu. Informasi laba atau rugi tiap pesanan diperlukan untuk mengetahui kontribusi tiap pesanan dalam menutup biaya non produksi dan menghasilkan laba atau rugi. Oleh karena itu, metode harga pokok pesanan oleh manajemen untuk mengumpulkan informasi biaya produksi sesungguhnya keluarkan untuk tiap pesanan guna menghasilkan informasi laba atau  rugi tiap pesanan

5.      Menentukan harga pokok persediaan produk jadi dan produk dalam proses yang disajikan dalam neraca
Pada saat perusahaan dituntut untuk membuat pertanggungjawaban keuangan periodik, manajemen harus menyajikan laporan keuangan berupa neraca dan laporan laba rugi. Di dalam neraca manajemen harus menyajikan harga pokok persediaan barang jadi dan harga pokok yang sampai dengan tanggal neraca masih dalam proses. Untuk tujuan tersebut, manajemen perlu menyelenggarakan pencatatan biaya produksi untuk setiap pesanan. Berdasarkan catatan biaya produksi tiap pesanan tersebut manajemen dapat menentukan biaya produksi yang melekat pada pesanan yang telah selesai diproduksi, namun pada tanggal neraca belum diserahkan kepada pemesan. Di samping itu, berdasarkan catatan itu pula manajemen dapat menentukan harga pokok dari produk yang sampai dengan tanggal penyajian neraca masih dalam proses pengerjaan
2.2 Aliran Kegiatan dan Aliran Biaya  Metode Harga Pokok Pesanan


Aliran harga pokok (flow of cost) menunjukkan aliran biaya produksi dalam rangka kegiatan
pengolahan bahan baku menjadi produk selesai yang selanjutnya dijual dan oleh karena itu harga pokok produk akan dipengaruhi atau tergantung pada aliran kegiatan (flow of activity)
perusahaan manufaktur dalam mengolah bahan baku menjadi produk selesai dan menjualnya. Berikut beberapa kegiatan dalam aliran kegiatan produksi :

1. Pengadaan (Procurement)
Pengadaan adalah kegiatan untuk memperoleh atau mengadakan barang dan jasa yang
akan dikonsumsi dalam kegiatan produksi, dapat dikelompokkan ke dalam :
a) Pembelian, penerimaan, dan penyimpanan bahan baku, bahan penolong, suplies
pabrik dan elemen (barang) lainnya yang akan dikonsumsi dalam kegiatan produksi.
b) Perolehan jasa dari tenaga kerja langsung, tenaga kerja tidak langsung dan jasa
lainnya yang tidak dikonsumsi dalam kegiaan produksi.

2. Produksi (Production)
Produksi adalah kegiatan mengolah bahan baku menjadi produk selesai. Pada kegiatan tersebut akan dikonsumsi bahan baku, tenaga kerja langsung, barang dan jasa lainnya yang dikelompokkan dalam overhead pabrik.

3. Penyimpanan Produk Selesai (Warehousing of finish goods)
Produk yang telah selesai diproduksi dari pabrik akan dipindahkan ke dalam gudang
produk selesai menunggu saat dijual atau diserahkan kepada pemesan.

4. Penjualan Produk Selesai (Selling of finish products)
Produk yang sudah laku dijual akan dikeluarkan dari gudang produk selesai untuk dikirim kepada pembeli, dan perusahaan dapat membebani rekening langganan atau pembeli.
Dalam rangka pengadaan bahan baku akan membentuk harga perolehan persediaan bahan baku, pengadaan jasa karyawan menimbulkan biaya gaji dan upah, konsumsi bahan penolong dan barang lain serta jasa yang dikelompokkan dalam overhead pabrik menimbulkan biaya overhead pabrik.

Dalam rangka pengolahan produk, bahan baku yang dikonsumsi membentuk Barang Dalam Proses-Biaya Bahan Baku, tenaga kerja yang dikonsumsi membentuk Barang Dalam Proses-Biaya Tenaga Kerja Langsung, biaya overhead yang dikonsumsi membentuk Barang dalam proses-Biaya overhead pabrik. Dalam rangka penyimpanan produk selesai sebelum dijual akan membentuk harga pokok Persediaan Produk Selesai. Dalam rangka penjualan produk, harga pokok persediaan produk selesai yang dijual akan membentuk Harga Pokok Penjualan

Sedangkan untuk aliran biaya produksi, berikut adalah ilustrasinya :





Aliran Biaya Produksi


Untuk pencatatan akuntansi, pengaruh aliran biaya tersebut akan dinyatakan dalam pendebetan dan pengkreditan rekening buku besar. Selain itu, perlu diselenggarakan buku besar pembantu (subsidiary ledgers) yang berfungsi untuk merinci lebih lanjut rekening buku besar tertentu sesuai dengan informasi yang diinginkan oleh manajemen.

Rekening Buku Besar                                   Rekening Buku Besar Pembantu
1.Persediaan bahan Baku                                - Kartu Persediaan Bahan Baku yang
diselenggarakan perpetual :
Persediaan soda
Persediaan pasir
Persediaan kaolin, dan sebagainya
2.Biaya Overhead Pabrik                                - Kartu Biaya Overhead Pabrik (expense ledger
of factory overhead)
Biaya Bahan Penolong
Biaya Tenaga Kerja Tidak Langsung
Biaya Penyusutan Mesin
Biaya Reparasi, dan sebagainya
3.Biaya Pemasaran                                          - Kartu Biaya Pemasaran
Gaji dan Konsumsi
Biaya Advertensi
Suplies Penjualan dan  sebagainya

4.Biaya Administrasi Umum                          - Kartu Biaya Administrasi Umum
Gaji Direktur, Staf dan Karyawan
Perjalanan Dinas
Suplies Administrasi dan Umum, dsb
5.Barang Dalam Proses                                   - Kartu Harga Pokok Pesanan
Botol Sprite
Botol Fanta, dsb
6.Persediaan Produk Selesai                           - Kartu harga pokok pesanan yang sudah selesai
dipindahkan fungsinya sebagai kartu pembantu
persediaan produk selesai
.7Harga Pokok Penjualan                                - Kartu Harga Pokok Pesanan yang selesai dan
sudah diserahkan kepada pemesan,
dipindahkan fungsinya sebagai kartu pembantu

2.3 Kartu Harga Pokok Pesanan (Job order cost sheet)
Kartu harga pokok merupakan catatan yang penting dalam metode harga pokok pesanan. Kartu harga pokok ini berfungsi sebagai rekening pembantu, yang digunakan untuk mengumpulkan biaya produksi tiap pesanan produk. Biaya produksi untuk mengerjakan pesanan tertentu dicatat secara rinci dalam kartu harga pokok pesanan yang bersangkutan. Biaya produksi dipisahkan menjadi biaya produksi langsung terhadap pesanan tertentu dan biaya produksi tidak langsung dalam hubungannya dengan pesanan tersebut. Biaya produksi langsung dicatat dalam kartu harga pokok pesanan yang bersangkutan secara langsung, sedangkan biaya produksi tidak langsung dicatat dalam kartu harga pokok berdasarkan suatu tarif tertentu. Berikut ini adalah bentuk dari kartu biaya pesanan atau kartu harga pokok pesanan :


PT ABC
Surabaya
KARTU BIAYA PESANAN

No Pesanan     : 110                                        Pemesan                     :
Jenis Produk    :                                               Sifat Pesanan  :
Tgl Pesan         :                                               Jumlah             :
Tgl Selesai       :                                               Harga Jual       :
Biaya Bahan Baku
Biaya Tenaga Kerja
Biaya Overhead Pabrik
Tgl
No BPBG
Ket
Jml
Tgl
No Kartu Jam Kerja
Jml
Tgl
Dasar
Tarif
Jml


Kertas X
Tinta B

Jumlah






Jumlah


BTKL*


Jumlah











Jumlah total biaya  produksi





2.4  Perlakuan akuntansi biaya pada metode harga pokok pesanan

Prosedur akuntansi biaya pada metode harga pokok pesanan meliputi organisasi formulir, catatan-catatan dan laporan-laporan yang terkoordinasi dalam rangka melaksanakan kegiatan
untuk melayani pesanan dan menyajikan informasi biaya bagi manajemen. Dalam hal ini prosedur akuntansi biaya dapat dikelompokkkan sebagai berikut.

1. Prosedur akuntansi biaya bahan dan suplies
Prosedur akuntansi biaya bahan dan suplies meliputi prosesdur pembelian sampai dengan pemakaian bahan dan suplies di dalam pabrik. Agar supaya jumlah persediaan bahan dapat
diketahui setiap saat, umumnya perusahaan menggunakan metode persediaan perpetual (perpetual inventory method). Taapan-tahapan prosedur akuntansinya adalah sebagai berikut.

a. Pembelian bahan dan Suplies
Pembelian bahan dan suplies dimulai dari pembuatan pesanan pembelian (purchases order) oleh bagian pembelian dan mengirimkannya kepada supplier. Apabila bahan dan suplies yang dipesan dating, oleh Seksi Gudang Bahan dibuatkan dokumen berupa bukti penerimaan barang setelah diperiksa kecocokan jumlah dan kualitas barang yang dibeli. Faktur pembelian dari supplier bersama pesanan pembelian dan bukti penerimaan barang diberikan pada Departemen Akuntansi untuk dibuat jurnal dan memasukkan ke dalam rekening buku besar pembantu yaitu Kartu
Persediaan.
Jurnal pembelian bahan dan suplies secara kredit sebagai berikut :
Persediaan Bahan Baku Rp     xx
Persediaan Bahan Penolong   xx
Persediaan Suplies                  xx
Hutang Dagang Rp                  xx
Apabila pembelian bahan dan suplies secara tunai rekening buku besar yang dikredit
adalah kas

b. Pengembalian (Return) Bahan dan Suplies yang Dibeli kepada Suplier
Apabila bahan dan suplies yang dibeli tidak sesuai dengan yang dipesan, maka perusahaan dapat mengembalikan kepada supplier dengan dibuatkan dokumen yang
disebut nota debet (debet memorandum) atau lapoean pengiriman pengembalian pembelian. Dari nota debet oleh Departemen Akuntansi dibuatkan jurnal dan dimasukkan ke dalam rekening buku besar pembantu persediaan sesuai dengan bahan
dan suplies yang dikembalikan kepada supplier.
Jurnal pengembalian bahan dan suplies kepada supplier adalah sebagai berikut :
Hutang Dagang Rp                          xx
Persediaan Bahan Baku Rp     xx
Persediaan Bahan Penolong xx
Persediaan Suplies Pabrik        xx
Apabila harga bahan dan suplies yang dikembalikan sudah dibayar akan didebet kas
atau piutang dagang.

c. Potongan Pembelian (Tunai) atas Pembelian Bahan dan Suplies
Seringkali dalam pembelian bahan dan suplies diperoleh potongan pembelian, apabila praktis potongan tunai mengurangi harga perolehan bahan dan suplies, oleh karena itu dari Bukti Kas ke Luar akan dibuat jurnal dan dimasukkan ke dalam kartu persediaan.
Jurnalnya adalah sebagai berikut.
Hutang Dagang Rp                             xx
Persediaan Bahan Baku Rp                xx
Persediaan Bahan Penolong              xx
Persediaan Suplies Pabrik                  xx
Kas                                                      xx

d. Pemakaian Bahan dan Suplies
Berdasarkan perintah produksi, departemen produksi yang memerlukan mengisi dokumen bon permintaan bahan kepada seksi gudang bahan untuk meminta bahan8 baku, bahan penolong, suplies pabrik dan barang lainnya yang diperlukan untuk mengolah produk yang dipesan pembeli. Bon permintaan bahan untuk meminta bahan baku akan menunjukkan bagian yang meminta, elemen dan jumlah satuan bahan baku yang diminta, serta pesanan yang memerlukan bahan baku tersebut. Dokumen ini akan dikirimkan pada departemen akuntansi dan oleh seksi akuntansi biaya dokumen bon permintaan bahan tersebut akan diisi harga perolehan satuan dan jumlah totalnya untuk dasar pembuatan jurnal dan memasukkan ke dalam Kartu Persediaan Bahan Baku dan Kartu Harga Pokok Pesanan yang bersangkutan.
Jurnal pemakaian bahan baku adalah sebagai berikut.
Barang Dalam Proses-Biaya Bahan Baku Rp xx
Persediaan Bahan Baku                                 Rp xx
Bon Permintaan Bahan untuk bahan penolong akan menunjukkan bagian yang meminta, serta elemen dan jumlah bahan penolong yang diminta. Dokumen ini dikirimkan ke departemen Akuntansi untuk diisi harga perolehan satuan dan jumlahnya oleh Seksi Akuntansi Biaya untuk dasar pembuatan jurnal dan memasukkan ke dalam Kartu Persediaan Bahan Penolong dan Kartu Biaya Overhead Pabrik. Dalam metode harga pokok pesanan, biaya overhead pabrik dibebankan pada
pesanan atas dasar tariff yang ditentukan di muka, oleh karena itu perusahaan akan
menyelenggarakan rekening buku besar Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya untuk
menampung biaya yang sesungguhnya dan rekening Biaya Overhead Pabrik Dibebankan untuk menampung biaya yang dibebankan kepada pesanan.
Jurnal pemakaian bahan penolong sebagai berikut.
Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Rp xx
Persediaan Bahan Penolong                          Rp xx

Prosedur pemakaian suplies pabrik sama dengan prosedur pemakaian bahan penolong,
setelah dokumen tersebut dilengkapi oleh Seksi Akuntansi Biaya data harga perolehan
satuan dan total, akan dibuat jurnal dan dimasukkan ke dalam Kartu Persediaan Suplies Pabrik dan Kartu Biaya Overhead Pabrik.9
Jurnal pemakaian suplies pabrik sebagai berikut.
Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Rp  xx
Persediaan Suplies Pabrik                              Rp xx

e. Pengembalian Bahan Vaku dari Pabrik ke Gudang bahan
Dapat pula timbul pengembalian bahan baku dari parik ke udang bahan. Misalnya, terjadi kelebihan bahan baku yang diminta dengan bahan baku yang dipakai sesungguhnya oleh pesanan tertentu, agar bahan baku tidak rusak di pabrik maka bahan baku tersebut dibuatkan dokumen yang disebut Laporan Pengembalian Bahan oleh Departemen Produksi dikirimkan ke Seksi Gudang Bahan dan tembusannya di
Departemen Akuntansi untuk membuat jurnal dan memasukkan ke Kartu Persediaan
Bahan Baku dan Kartu Harga Pokok Pesanan yang bersangkutan.
Jurnal yang dibuat sebagai berikut.
Persediaan Bahan Baku                                 Rp  xx
Barang Dalam Proses – Biaya Bahan Baku              Rp xx



2. Prosedur akuntansi biaya tenaga kerja
Prosedur akuntansi biaya tenaga kerja meliputi prosedur terjadinya gaji dan upah,pembayaran gaji dan upah, dan distribusi gaji dan upah untuk semua karyawan perusahaan baik produksi maupun non produksi, baik karyawan yang gajinya tetap per bulan maupun yang ditentukan oleh jam kerjanya.
Tahap-tahap transaksi biaya tenaga kerja sebagai berikut:
a. Penentuan Besarnya Gaji dan Upah
Cara penentuan besarnya gaji dan upah karyawan dapat dikelompokkan menjadi dua
yaitu :
(1) Gaji dan Upah karyawan besarnya tergantung pada lamanya waktu kerja (jam
kerja) atas jumlah produk yang dihasilkan.

Apabila karyawan di bayar atas dasar lamanya waktu kerja, umumnya system ini hanya untuk tenaga kerja langsung, untuk menentukan besarnya upah diperlukan dokumen Daftar Hadir (Kartu Presensi atau Time Clock Card) yang menunjukkan data jumlah jam kerja karyawan setiap hari dalam jangka waktu pembayaran upah. Untuk mengetahui penggunaan waktu kerja karyawan di pabrik dalam mengerjakan pesanan atau jumlah produk yang dihasilkan digunakan kartu jam kerja karyawan (Job Time Ticket atau Labor Time Ticket). Manfaat kartu ini yaitu untuk memasukkan biaya tenaga kerja langsung pada setiap kartu harga pokok pesanan. Untuk pengawasan tenaga kerja, jumlah jam dalam daftar hadir relative harus sama dengan jumlah jam pada kartu jam kerja karyawan. Dari daftar hadir akan disusun daftar upah karyawan yang menunjukkan data jumlah gaji dan upah kotor, potongan atas gaji dan upah misalnya pajak pendapatan dan dana pension serta gaji dan upah bersih yang akan dibayarkan kepada karyawan.

(2) Gaji dan Upah karyawan tetap per bulan
Untuk karyawan tetap per bulan fungsi daftar hadir untuk mengetahui kedisiplinan karyawan apakah sering dating terlambat dan pulang lebih cepat atau dating dan pulang pada waktu yang tepat. Umumnya system ini dipakai untuk pimpinan, staf, karyawan perusahaan yang tidak termasuk tenaga kerja langsung dalam produksi.

Setiap menjelan akhir bulan akan disusun daftar gaji an karyawan yang menunjukkan data jumlah gaji kotor yaitu gaji pokok ditambah tunjangan-tunjangan, potongan-potongan atas gaji, serta gaji bersih yang akan dibayarkan kepada karyawan.

Jurnal untuk mencatat terjadinya gaji dan upah, baik untuk karyawan tetap maupun karyawan berdasar lamanya waktu kerja, adalah sebagai berikut :
Biaya Gaji dan upah                                       Rp xx
Hutang Pajak Pendapatan                                          Rp xx
Hutang Dana Pensiun                                                            Rp xx
Hutang Asuransi Tenaga Kerja (Astek)                      Rp xx
Hutang Asuransi Hari Tua (AsHT)                             Rp xx
Piutang Karyawan                                                      Rp xx
Hutang Gaji dan Upah                                               Rp xx
Keterangan :
Perusahaan bertindak sebagai wajib pungut atau wajib potong atas pajak pendapatan, dana pensiun hari tua, asuransi tenaga kerja yang nantinya akan disetorkan kepada badan-badan yang berhak.

b. Pembayaran atas Gaji dan Upah
Menjelang tanggal penyerahan gaji dan upah, Kasir membayarkan gaji dan upah kepada Juru Bayar Gaji dengan menggunakan dokumen Buku Kas ke luar saat gaji dibayarkan, Juru Bayar Gaji meminta karyawan untuk menghitung keseuaian gaji dan
upahnya serta menandatangani Daftra Gaji dan Upah. Jurnal Pembayaran gaji dan
upah sebagai berikut.
Hutang Gaji dan Upah     Rp xx
K a s                                        Rp xx

c. Distribusi Biaya Gaji dan Upah
Melalui dokumen Perintah Jurnal biaya gaji dan upah didistribusikan sesuai dengan fungsi produksi, fungsi pemasaran, dan fungsi administrasi dan umum. Biaya gaji dan upah untuk produksi dikumpulkan ke dalam biaya tenaga kerja langsung dan biaya tenaga kerja tidak langsung yang merupakan elemen biaya overhead pabrik sesungguhnya. Biaya tenaga kerja langsung akan dimasukkan ke dalam rekening Barang Dalam Proses- Biaya Tenaga Kerja Langsung dan Kartu Harga Pokok
Pesanan, sedangkan elemen gaji dan upah lainnya ke Kartu Biaya yang bersangkutan.
Jurnal distribusi gaji dan upah sebagai berikut:
Barang Dalam Proses-Biaya Tenaga Kerja Langsung          Rp xx
Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya                                  Rp xx
Biaya Pemasaran                                                                    Rp xx
Biaya Administrasi dan Umum                                               Rp xx
Biaya Gaji dan Upah                                                              Rp xx

d. Beban atas Gaji dan Upah yang Ditanggung Perusahaan
Pada perusahaan tertentu seringkali perusahaan ikut menanggung sebagian beban atas gaji dan upah yang berupa pajak pendapatan, dana pension, asuransi hari tua, atau asuransi tenaga kerja karyawan. Beban yang ditanggung perusahaan merupakan elemen biaya, beban yang berhubungan dengan karyawan pabrik diperlakukan sebagai elemen biaya overhead pabrik sesungguhnya karena sifat biaya ini tidak dapat
diidentifikasikan pada produk tertentu, beban yang berhubungan dengan karyawan pemasaran masuk elemen biaya pemasaran, beban yang berhubungan dengan  karyawan administrasi dan umum masuk elemen biaya administrasi dan umum.
Besarnya biaya beban atas gaji dan upah, dibuatkan dokumen Daftar Sumbangan
Gaji dan Upah, atas dasar tersebut dibuat jurnal dan dimasukkan Kartu Biaya.
Jurnal transaksi tersebut dalah sebagai berikut:
Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya          Rp xx
Biaya Pemasaran                                            Rp xx
Biaya Administrasi dan Umum                       Rp xx
Hutang Pajak Pendapatan                                          Rp xx
Hutang Dana Pensiun                                                Rp xx
Hutang Asuransi Tenaga Kerja                                  Rp xx
Hutang Asuransi Hari Tua                                         Rp xx
e. Penyetoran Potongan dan beban atas Gaji dan upah kepada badan-badan yang berhak
Dokumen Bukti Kas Keluar digunakan untuk menyetorkan potongan dan beban
atas gaji dan upah pada badan-badan yang berhak. Jurnal untuk mencatat transaksi
tersebut adalah sebagai berikut:
Hutang Pajak Pendapatan                  Rp xx
Hutang Dana Pensiun                        Rp xx
Hutang Asuransi Tenaga Kerja          Rp xx
Hutang Asuransi Hari Tua                 Rp xx
K a s                                                    Rp xx

3. Prosedur akuntansi biaya overhead pabrik
Biaya overhead pabrik merupakan biaya yang paling kompleks, untuk ketelitian dan
keadilan pembebanan harus digunakan tariff biaya overhead pabrik yang ditentukan di
muka. Alasan pemakaian tarif pembebanan adalah sebagai berikut:
1. Adanya biaya overhead yang timbul setelah aktivitas berlalu. Misalnya, reparasi aktiva tetap disebabkan pemakaian masa lalu, maka apabila pembebanan pada pesanan dilakukan saat terjadinya biaya, berakibat menjadi tidak teliti dan adil.
2. Adanya biaya yang dapat dihitung pada akhir periode. Misalnya, penyusutan, biaya
listrik PLN. Biaya ini apabila dibebankan pada pesanan saat dapat dihitung berakibat
menjadi tidak teliti dan adil.16
3. Adanya biaya yang terjadi hanya pada interval waktu tertentu. Misalnya pada setahun dibayar sekali atau dicicil dua kali. Biaya ini apabila dibebankan pada pesanan saat terjadinya, berakibat menjadi tidak teliti atau adil karena maanfaat Ipeda dinikmati selama satu tahun.

Dua uraian tersebut jelas bahwa biaya overhead yang sesungguhnya baru dapat dihitung pada akhir periode, padahal harga pokok pesanan harus dihitung saat pesanan selesai tanpa menunggu akhir periode. Jadi, untuk membebankan biaya overhead pabrik kepada pesanan harus digunakan tarif yang ditentukan di muka. Rumus perhitungan tarif biaya overhead pabrik adalah sebagai berikut:
T=   B
       K
di mana :
T  =  Tarif biaya overhead pabrik
B  =  Budget biaya overhead pabrik periode tertentu
K  =  Budget kapasitas pembebanan untuk periode bersangkutan
Apabila tarif biaya overhead pabrik sudah ditentukan, prosedur akuntansi biaya
overhead pabrik selanjutnya sebagai berikut.


a. Prosedur Pembebanan Biaya Overhead Pabrik pada Pesanan
Suatu pesanan akan dibebani biaya overhead pabrik sesuai dengan kepastian sesungguhnya yang dinikmati oleh pesanan yang bersangkutan dikalikan dengan tarif
biaya overhead pabrik yang ditentukan di muka. Atas dasar dokumen Perintah Jurnal
dibuatkan jurnal pembebanan dan dimasukkan ke dalam Kartu Harga Pokok Pesanan.
Jurnal pembebanan sebagai berikut.
Barang Dalam Proses – Baiya Overhead Pabrik Rp xx
Biaya Overhead Pabrik Dibebankan                          Rp xx

b. Prosedur Akuntansi Pengumpulan Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya
Biaya overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi dalam periode yang bersangkutan akan ditampung dalam rekening Biaya Overhead Pabrik sesungguhnya dan dimasukkan ke dalam Kartu Pembantu Biaya Overhead Pabrik. Jurnal setiap elemen biaya overhead pabrik .
(1) Biaya Bahan Penolong
Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Rp xx
Persediaan Bahan Penolong                          Rp xx
(2) Biaya Tenaga Kerja Tidak Langsung
Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Rp xx
Biaya Gaji dan Upah                                      Rp xx 
Beban atas gaji dan upah yang ditanggung perusahaan dengan dokumen daftar sumbangan Gaji dan Upah dijurnal.
Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Rp xx
Hutang P.Pd                                       Rp xx
Hutang D.Pn                                       Rp xx
Hutang Astek                                       Rp xx
Hutang AsHT Rp                                Rp xx
(3) Biaya Penyusutan dan Amortisasi Aktiva Tetap Pabrik
Pada akhir periode dibuat dokumen Perintah Jurnal untuk mencapai biaya penyusutan dan amortisasi aktiva tetap pabrik, dan dibuat jurnal sebagai berikut:




Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya          Rp xx
Akumulasi Penyusutan Mesin             Rp xx
Akumulasi Penyusutan Bangunan      Rp xx
Akumulasi Penyusutan Peralatan       Rp xx
Amortisasi Hak Paten                                     Rp xx

(4) Biaya Reparasi dan Pemeliharaan Aktiva Tetap Pabrik
Biaya reparasi dan pemeliharaan dapat timbul dari reparasi dan pemeliharaan yang dilakukan sendiri oleh karyawan perusahaan. Dalam hal ini biaya yang timbul adalah biaya pemakaian suplies dan suku cadang, biaya tenaga kerja tidak langsung dan penyusutan peralatan reparasi dan pemeliharaan. Untuk biaya suplies, tenaga kerja tidak langsung dan penyusutan peralatan jurnalnya telah  dibuat pada pembahasan di muka, jurnal untuk pemakaian suku cadang sebagai berikut.
Saat  dibeli :
Persediaan Suku Cadang                    Rp xx
Hutang Dagang atau Kas                   Rp xx
Saat dipakai :
Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Rp xx
Persediaan Suku Cadang                    Rp xx
Biaya reparasi dapat pula timbul dari pembelian jasa reparasi dan pemeliharaan kepada pihak luar, dari dokumen Bukti Kas Keluar untuk yang sudah dibayar atau dokumen Faktur Pembelian Jasa dan Perintah Jurnal yang belum dibayar dibuat jurnal Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Rp xx
Kas                                                      Rp xx
Hutang Biaya                                      Rp xx

(5) Biaya Listrik dan Air untuk pabrik
Listrik PLN dan air PAM yang dikonsumsi perusahaan dan sudah dibayar digunakan dokumen. Bukti Kas Keluar, yang belum dibayar dibuat dokumen perintah jurnal akan dibuat jurnal sebagai berikut.
Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Rp xx
Kas                                                      Rp xx
Hutang Biaya                                      Rp xx

(6) Biaya Asuransi Pabrik
Biaya ini umumnya timbul dari berakhirnya (expired) sebagian persekot asuransi,pada saat persekot asuransi dibayar digunakan dokumen Bukti Kas Keluar, pada saat diperhitungkan biaya digunakan dokumen Perintah Jurnal. Jurnal dari persekot asuransi dan biaya asuransi sebagai berikut:
Terjadinya pembayaran persekot asuransi :
Persekot Asuransi Rp xx
Kas                              Rp xx
Persekot asuransi menjadi biaya :
Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya   Rp xx         
Persekot Asuransi                               Rp xx
(7) Biaya Overhead lain-lain
Elemen biaya yang dapat dimasukkan pada golongan pada golongan biaya di atas dimasukkan di dalam biaya overhead pabrik lain-lain, rekening yang dikredit tergantung dari penyebab timbulnya biaya tersebut. Misalnya sebagian biaya overhead lain-lain sudah dibayar dan sebagian masih terhutang dibuat jurnal.
Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Rp xx
Kas                                                      Rp xx
Hutang Biaya                                      Rp xx

c. Prosedur Akuntansi Perhitungan dan Perlakuan selisih Biaya Overhead Pabrik
Pada akhir periode akuntansi akan dihitung besarnya selisih biaya overhead pabrik yang sesungguhnya dengan yang dibebankan kepada pesanan, dengan perintah jurnal akan dibuat jurnal sebagai berikut.
(1) Jurnal menutup Biaya overhead Pabrik Dibebankan ke Biaya Overhead
Pabrik Sesungguhnya.
Biaya Overhead Pabrik Dibebankan              Rp xx
Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya          Rp xx
(2) Jurnal untuk menutup Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya dan menghitung selisih sebagai berikut.
Apabila biaya overhead sesungguhnya lebih besar dibanding biaya overhead dibebankan (selisih tidak menguntungkan atau unfavorable variance atau under applied factory overhead)
Selisih Biaya Overhead Pabrik           Rp xx
Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya          Rp xx
Apabila Biaya Overhead yang sesungguhnya lebih kecil dibandingkan Biaya overhead dibebankan (selisih menguntungan atau favorable variance atau over
applied factory overhead) :
Biaya Overhead Sesungguhnya          Rp xx
Selisih Biaya Overhead Pabrik           Rp xx
(3) Salah satu perlakuan selisih yaitu masuk ke rekening Rugi-Laba
Selisih tidak menguntungkan :
Rugi-Laba                               Rp xx
Selisih Biaya Overhead Pabrik           Rp xx
Selisih menguntungkan :
Selisih Biaya Overhead Pabrik Rp xx
Rugi-Laba                                           Rp xx

4. Prosedur akuntansi produk selesai dan produk dalam proses akhir periode
Pada metode harga pokok pesaan setiap ada pesanan yang selesai dipindahkan dari Departemen Produksi ke Seksi Gudang Produk Selesai dan harus dihitung harga pokoknya,jumlah harga pokok yang selesai dapat dihitung dengan merekam Kartu Harga Pokok Pesanan dan selanjutnya memindahkan kartu tersebut dari fungsinya sebagai rekening pembantu Barang Dalam Proses ke fungsi yang baru sebagai pembantu rekening Persediaan Produk Selesai. Atas dasar dokumen Bukti Pemindahan Produk Selesai dan Perintah Jurnal sebagai berikut.
Persediaan Produk Selesai                                         Rp xx
Barang Dalam Proses – Biaya Bahan Baku                          Rp xx
Barang Dalam Proses – Biaya Tenaga Kerja Langsung       Rp xx
Barang Dalam Proses – Biaya Overhead Pabrik                   Rp xx







2.5  Menghitung HPP dan Laporan Rugi-Laba untuk perusahaan berdasarkan pesanan

Menghitung Harga Pokok Produksi

                                                                   PT. GHI
Laporan Harga Pokok Produksi
Untuk periode yang berakhir 31 Des 2000
 

Persediaan Bahan Baku Langsung                             Rp xxxxxx
Pembelian Bahan Baku Langsung                              Rp xxxxxx

            BBL tersedia untuk diproduksi                                              Rp xxxxx
Persediaan BBL akhir                                                                         (Rp xxxxx)     

            BBL yang digunakan                                                                                      Rp xxxxxx
Biaya Tenaga Kerja Langsung                                                                                    Rp xxxxxx
Biaya Overhead Pabrik di bebankan                                                                          Rp xxxxxx

Harga Pokok Produksi                                                                                             Rp xxxxx













Menghitung Laba atau Rugi
                                                                                     PT. GHI
Laporan Laba Rugi
Untuk periode yang berakhir 31 Des 2000
 

Penjualan                                                                                             Rp xxxxxx
HPP                                                             Rp xxxxx
Selisih BOP                                                (Rp xxxxx)

                                                                                                            Rp xxxxxx

                                                                                                            Rp xxxxxx
Beban Usaha   :
Beban pemasaran                                            Rp xxxxx
Beban administrasi                                          Rp xxxxx

dll                                                                                                        Rp xxxxxx

            Laba/Rugi sebelum pajak                                                    Rp xxxxxx













BAB 3
    PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Metode harga pokok pesanan merupakan salah satu metode pengumpulan harga pokok produksi, dimana proses produksinya berdasarkan pesanan dari konsumen (pemesan) .Metode harga pokok pesanan adalah metode pengumpulan harga pokok produk dimana biaya dikumpulkan untuk setiap pesanan atau kontrak atau jasa secara terpisah, dan setiap pesanan atau kontrak dapat dipisahkan identitasnya.    PENUTUP

3.1 Kesimpulan


Metode harga pokok pesanan merupakan salah satu metode pengumpulan harga pokok produksi, dimana proses produksinya berdasarkan pesanan dari konsumen (pemesan) .Metode harga pokok pesanan adalah metode pengumpulan harga pokok produk dimana biaya dikumpulkan untuk setiap pesanan atau kontrak atau jasa secara terpisah, dan setiap pesanan atau kontrak dapat dipisahkan identitasnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar